This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 10 November 2014

GLOBALISASI






Sebelum kita mempelajari secara mendalam apa itu Globalisasi, maka kita perhatikan ilustrasi berikut:







 Pengertian Globalisasi dengan menggabungkan beberapa konsep:
Globalisasi= Global + sasi
Makna kata Global adalah Universal. Sedangkan Sasi adalah proses. Sehingga kalau digabungkan menjadi proses untuk menjadi global atau universal, yang mengandung arti bahwa proses seluruh segi kehidupan menjadi satu kesatuan/ tunggal tanpa adanya batas ruang dan waktu.
Seperti gambar ilustrasi sebelumnya, di sana dijelaskan bahwa sebuah kejadian yang berada di luar batas suatu wilayah negara dapat diketahui secara bersamaan. Hal ini menggambarkan bahwa fenomena tersebut tidak memiliki batasan baik ruang dan waktu, semua itu akibat globalisasi. 
Pengertian Globalisasi menurut Pendapat Para Ahli:
v  Martin Albrown
Globalisasi menyangkut seluruh proses dimana penduduk dunia terhubung ke dalam komunitas dunia tunggal, komunitas global.
v  M. Waters
Sebauh proses sosial dimana halangan-halangan yang bersifat geografis pada tatanan sosial dan budaya semakin menyusut dan setiap orang sadar bahwa mereka semakin dekat satu sama lainnya.
v  Emmanuel Richter
Jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi dalam planet ini ke dalam ketergantungan yang saling menguntungkan dan persatuan dunia
Ciri-ciri Globalisasi:
1.      Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti yang terjadi dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi: telepon genggam, televisi, satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya. Sedangkan dalam bidang transportasi: pesawat, jet, mobil dll.
2.      Masuknya budaya asing dengan mudahnya
3.     Pasar dan produk ekonomi dari negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional dan dominasi organisasi semacam world trade organization (WTO)
4.   Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, musik dll). Saat ini, kita dapat melihat perkembangan dalam dunia fashion dan makanan.
5.    Meningkatnya masalah bersama, seperti di bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional
Hal-hal yang mendorong Globalisasi:
Ø  Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi komunikasi yang seolah-olah telah membuat batas dan jarak menjadi hilang dan tak berguna
Ø  Terbukanya sistem perekonomian negara
Ø  Semakin besarnya orang untuk melakukan travelling antar negara
Ø  Semakin besarnya orang yang menghendaki hal-hal yang bersifat praktis

Minggu, 02 November 2014

Teori Pembangunan Dunia Ketiga


Teori-teori pembangunan Dunia Ketiga yang akan dibahas di bawah ini merupakan teori yang muncul dengan latar belakang adanya harapan untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara dunia ketiga, yaitu negara-negara miskin, sedang berkembang, dan terbelakang. Pandangan-pandangan terkait nilai-nilai negara maju atau modern diagung-agungkan sebagai acuan bagi Negara Dunia Ketiga yang ingin menjadi negara maju (Teori Modernisasi). Sisi lain menjelaskan bahwa berinteraksi dengan negara modern akan menambah kemiskinan negara Dunia Ketiga (Teori Ketergantungan/ Dependensi).







1.     Teori Modernisasi
Menurut teori evolusi, modernisasi memiliki beberapa asumsi:
1)     Modernisasi sebagai proses bertahap
2)     Proses homogenisasi, artinya akan terbentuk masyarakat dengan karakter dan struktur serupa
3)     Terwujud dalam bentuk Eropanisasi dan Amerikanisasi (mengadopsi berbagai sistem yang dipakai oleh negara barat)
4)     Merupakan proses yang tidak bergerak mundur
5)     Perubahan yang progresif
6)     Memerlukan waktu yang panjang
7)     Proses yang sistemik (melibatkan perubahan hampir di segala tingkah laku sosial)
8)     Proses transformasi (nilai-nilai tradisional harus diganti total dengan nilai-nilai modern)
9)     Proses yang bersifat terus-menerus
Teori modernisasi memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang menyebabkan ketergantungan negara Dunia Ketiga dengan negara maju. Dimana faktor-faktor tersebut dilihat sebagai faktor internal negara Dunia Ketiga. Berikut pendapat yang akan dijelaskan oleh para teoritikus terkait masalah yang dihadapi oleh negara Dunia Ketiga.
a.      David McClelland
Kemiskinan yang dialami oleh negara dunia ketiga yaitu karena masyarakatnya tidak memiliki semangat untuk berprestasi. Teori ini biasa dikenal dengan n-Ach (need for achivement). Masyarakat ini tidak memanfaatkan waktu luangnya untuk memikirkan hal-hal yang dapat meningkatkan situasi saat ini ke arah yang lebih baik. Padahal negara maju siap mambantu dalam hal modal jika dibutuhkan oleh negara Dunia Ketiga. Ia juga menyebutkan bahwa intensias hubungan negara Dunia Ketiga dengan negara maju akan mampu menyerap ciri-ciri motivasi berprestasi tinggi yang dimiliki oelh negara barat.
b.     Alex Inkeles
Inkeles menyebutkan beberapa karakteristik manusia modern yang tidak dimiliki oleh masyarakat negara dunia ketiga:
a)     Menerima hal-hal baru
b)     Demokratis
c)      Menghargai waktu dan berorientasi ke masa depan
d)     Memiliki perencanaan dan pengorganisasian
e)     Percaya diri
f)       Perhitungan
g)     Menghargai harkat hidup manusia lain
h)     Lebih percaya terhadap IPTEK
Ada dua cara untuk dapat menjadi negara maju: pertama dengan pendidikan, kedua melalui faktor pengalaman kerja yaitu menggunakan teknologi di dalam setiap pekerjaannya.
c.      Walt Whiltman Rostow
Ada lima tahap pertumbuhan ekonomi: pertama, masyarakat tradisional. Tahap ini ditandai oleh pembangunan dan perubahan sosial yang berjalan lambat karena kemampuan masyarakatnya dalam mengakses IPTEK. Kedua, prakondisi tinggal landas. Tahap ini tumbuh ide-ide untuk mempelajari kemajuan ekonomi (berkembangnya pendidikan, wirausahawan). Ketiga, tahap tinggal landas. Tahap ini telah banyak pengusaha dan terjadi pembangunan di sektor industri. Keempat, tahap pematangan pertumbuhan. Pemanfaatan teknologi menjadi semakin kompleks. Kelima, konsumsi masa yang tinggi. Sektor industri mulai mengkhususkan pada produksi barang-barang konsumsi.
2.     Teori Ketergantungan (Teori Dependensi)
Teori ini juga disebut sebagai teori dependensi yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Teori ini melihat permasalahan yang dihadapi oleh negara dunia ketiga adalah ulah negara maju. Negara maju telah melakukan hegemoni kekuasaan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya terhadap negara dunia ketiga. Teori Marx menjadi dasar pencetusan teori ini. Kelas proletar dikuasai kelas borjuis dengan menciptakan ketergantungan. Beberapa asumsi terkait teori ketergantungan yakni:
1)     Ketergantungan merupakan hal umum bagi negara Dunia Ketiga
2)     Diakibatkan faktor luar (di luar jangkauan politik, ekonomi dalam negeri)
3)     Surplus ekonomi negara Dunia Ketiga kepada negara maju
4)     Bertolak belakang dengan pembangunan selama surplus ekonomi pindah ke negara maju.
Berikut pendapat menurut beberapa teoritikus terkait teori ketergantungan:
a.      Paul Baran
Investasi yang dilakukan oleh negara maju ke negara Dunia Ketiga hanya akan menarik keuntungan negara Dunia Ketiga.
b.     Andre Gunder Frank
Negara-negara di dunia ini dikategorikan menjadi dua negara: pertama, negara metropolis maju. Kedua, negara satelit terbelakang. Frank menyebutkan ada 4 hipotesis utama:
a)     Pihak metropolis akan berkembang pesat dan Satelit akan menuju pada keterbelakangan
b)     Negara-negara yang kini menjadi negara Satelit, akan mampu mengembangkan sektor ekonomi dan industri jika hubungannya dengan negara metropolis sangat lemah
c)      Kawasan-kawasan yang kini terbelakang, adalah kawasan yang dulunya mempunya hubungan yang erat dengan negara metropolis
d)     Pertumbuhan beberapa kawasan maju saat ini bukanlah merupakan proses penerapan sistem kapitalis, tapi memang kawasan tersebut telah berkembang kukuh berdasarkan dinamikanya sendiri
c.      Theotonio Dos Santos
Santos mengkategorikan negara-negara di dunia menjadi dua kategori pula: Pertama, negara dominan sebagai negara maju. Kedua, negara tergantung sebagai negara dunia ketiga. Teoritikus ini mempunyai pandangan yang bertentangan dengan pandangan Frank, bahwa hubungan antara negara Dunia Ketiga dengan negara maju tidaklah selalu negatif. Artinya jika negara dominan mengalami kemajuan, maka negara tergantung akan mengalami kemajuan pula dan sebaliknya.
Tiga jenis ketergantungan dalam Tesis yang diajukan oleh Santos yaitu Pertama, ketergantungan kolonial yang dialami negara jajahan, dengan bentuk pemonopolian kepemilikan tanah, pertambangan, ekspor barang galian dan hasil bumi, hal ini dilakukan oleh negara dominan yang bekerjasama dengan elit negara tergantung. Kedua, ketergantungan industri keuangan yang melihat sektor ekonomi negara tergantung lebih berpusat pada ekspor bahan mentah dan produk pertanian. Ekspor bahan menyebabkan terkurasnya sumber daya negara sedangkan nilai tambah yang diperoleh sangatlah kecil. Ketiga, ketergantungan teknologi industri yang melihat sebagian besar negara tergantung merupakan negara yang tidak dapat memproduksi atau menguasai teknologi, sedangkan negara dominan adalah negara yang menguasai teknologi.

3.     Teori Sistem Dunia (Teori Sistem Ekonomi Kapitalis Dunia)
Menurut teori sistem dunia, dunia dipandang hanya sebagai satu sistem ekonomi saja, yaitu sistem ekonomi kapitalis. Motivasi teori modernisasi untuk mengubah cara produksi masyarakat negara dunia ketiga sesungguhnya adalah usaha mengubah cara produksi prakapitalis menuju kapitalis, yang sudah diterapkan di negara-negara maju, untuk ditiru negara Dunia Ketiga.
Menurut hubungannya dengan berbagai negara di dunia, maka ada tiga bentuk negara dalam teori sistem dunia yaitu negara sentral, semipinggiran, dan pinggiran. Negara sentral diposisikan sebagai negara yang melakukan eksploitasi terhadap negara semipinggiran dan pinggiran, Negara semipinggiran disebut sebagai salah satu model kesuksesan ekonomi yang faktanya masih bergantung pada negara sentral, sedangkan negara pinggiran menaikkan statusnya menjadi negara semipinggiran akibat keberhasilan perekonomiannya.
Ketiga bentuk negara tersebut semua berorientasi sama untuk dapat mencapai menjadi negara sentral. Perubahan status negara pinggiran menuju semipinggiran ditentukan oleh keberhasilan negara pinggiran strategi pembangunan dengan memanfaatkan peluangn (berdiri di atas kaki sendiri), dan perubahan status negara semipinggiran dengan perluasan pasar dan penggunaan teknologi. Bahkan negara semipinggiran dibutuhkan dalam mengatasi disentegrasi sistem dunia (antara negara pinggiran dengan negara sentral)

Sumber: Martono, Nanang. 2001. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo

Senin, 23 Desember 2013

Mengapa Orang Jepang Menganggap Moral Kita Lemah?

Ilustrasi: www.kaskus.co.id


Tulisan ini ditulis penulis agar dapat memberikan konstribusi motivasi bagi Bangsa terutama Indonesia. Tulisan ini mengadopsi dari apa yang telah ditulis oleh Prof. DR. H. Abdurrahmat Fathoni, M.Si dalam bukunya yang berjudul Antropologi Sosial Budaya. Di dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa sekarang sudah ada ambisi dari Jepang untuk menguasai bangsa-bangsa di Asia, alias menjadi pemimpin bagi Negara-negara yang ada Asia. Mereka menganggap dirinya berhak untuk memegang peranan itu, karena sebagai satu-satunya bangsa di Asia yang telah mencapai kemakmuran. Ambisi yang sudah sejak lama itu tidak dapat dihapuskan oleh kekalahan besar yang mereka derita dalam perang dunia 2.
Pertama-tama mereka ingin mencoba mengembangkan suatu pengertian dan apresiasi terhadap keperluan-keperluan, kemauan, cita-cita bangsa lain di Asia yang hendak mereka pimpin itu. Mereka mengerti bahwa bahwa bangsa di Asia ingin mencapai suatu perbaikan dalam kemakmuran melalui pembangunan ekonomi. Bahkan ada beberapa cendikiawan Jepang yang begitu progresifvsehingga mengemukakan agar bangsa-bangsa dan Negara-nagara di Asia yang sedang berkembang itu hendaknya jangan didorong dengan bantuan ekonomi, melainkan ajakan untuk ikut serta menjadi kawan, sebagai partner dalam usaha.
Sebaliknya, gagasan yang amat progresif tersebut tidak akan dapat terlaksana, mereka membantah dengan pendirian mereka bahwa bangsa-bangsa yangs edang berkembang sukar untuk dijadikan partner karena mentalitasnya yang belum cocok dengan irama kehidupan ekonomi yang modern yang sekarang menjadi landasan kehidupan manusia dalam Negara yang sudah maju seperti Jepang.
Seorang teman sejawat bangsa Jepang yang mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang Indonesia mengucapkan kepada Pengarang buku tersebut sebagai berikut: “Banyak orang Indonesia lemah dalam hal moral”
Pengarang terkejut mendengarkan pernyataan tersebut, lalu pengarang menanyakan apa maksud dari kata “moral”. Ternyata paham “moral” pada orang Jepang itu berbeda artinya dengan pemahaman kata moral di Indonesia. Menurut orang Jepang paham “moral” mengandung unsure-unsur sebagai berikut:
a.      Bertanggung jawab sampai sejauh-jauhnya, kalau perlu dengan mengorbankan diri sendiri, terhadap suatu tugas yang telah disanggupinya.
b.      Loyalitas mutlak terhadap kesatuan social yang sudah dipilih untuk diikuti.
Kalau kata-kata tersebut kita tanggapi secara serius maka hal itu artinya bahwa orang Jepang itu menilai tinggi kedua sifat kemanusiaan tersebut, dan bahwa mereka itu hanya mau menganggap orang-orang yang mempunyai kedua sifat kemanusiaan tadi sebagai partner dalam usaha dan sebagai bangsa yang sederajat dengan mereka.
Hal itu juga berarti bahwa mereka menganggap bahwa bangsa kita Indonesia belum cocok menjadi partner mereka karena kedua sifat di atas belum kita miliki.